FINLAND M..
[23-05-2021]
Salahsatu keindahan duniawi kataku pada seorang kawan. Iya, dia yang kumaksud memiliki bola mata yang menawan berwarna coklat terang, kedua bola mata itu seakan bersinar menumpahkan keindahan yang ada padanya. Sorot matanya juga begitu tajam jika dilihat-lihat. Tingginya sekitar 160 cm lebih tapi tidak tahu pasti, rambutnya hitam kecoklatan kalau kuperhatikan, si pemilik gummy smile kalau kata banyak orang. Bila diperhatikan secara bentuk fisik sepertinya dia memiliki darah campuran tapi aku tak tahu pasti, bukan wajah yang Indonesia banget ya dia tipikal Indo lah, kemudian ya dia hampir tiga tahun dibawahku. Ah Aku kehabisan kata untuk mendeskripsikan dia lebih jauh. Mungkin dia ini diciptakan saat Tuhan sedang dalam suasana hati yang baik. Lalu kedua tanganku bergetar saat menulis ini, senyum di wajahku pun tak juga luntur, sambil kuputar lagu-lagu cinta agar semakin terasa.
Kemudian sedikit cerita latar belakangnya yang tak begitu aku paham betul, keluarganya berasal dari sebrang laut sana, ya tanah Sumatera, lebih tepatnya dimana Sisingamangaraja XII pernah berkuasa disana. Tanah para leluhurnya dengan sejuta kekayaan budaya yang ada. Meski katanya “tidak batak banget” tapi aku sadar itu tetap mengalir deras dalam darahnya. Terlalu banyak perbedaan yang ada, membangun tembok-tembok yang menjulang tinggi sebagai pembatas. Hal ini yang menjadi pengingatku agar tidak terlalu jauh. Tidak melangkah lebih jauh agar aku tidak jatuh sendiri di kemudian hari. Sempat kuutarakan keresahanku ini pada kawanku, aku takut benar-benar jatuh hati pada si gummy smile.
Aku sadar ini hanya gejolak sesaat saja, reaksi yang begitu manusiawi ketika melihat sesuatu yang menarik daripada sekitarnya. Kemudian gejolak ini akan meluap dengan sendirinya. Semua kekaguman ini akan lenyap seiring berjalannya waktu. Tapi satu harapanku, suatu hari nanti aku harus ingat betapa aku mengangumi si gummy smile dengan begitunya.
Tulisan ini dibuat sebagai bentuk kekaguman aku pada ciptaan Tuhan, salahsatu yang indah. Ketika mulut dan waktuku terbungkam, maka jemariku menari mengungkap segala rasa yang ada dalam pikiranku.
-D
Komentar
Posting Komentar